Pada tanggal 31 Mei, kita memperingati Hari Anti Tembakau Sedunia. Ini adalah momentum penting untuk mengingatkan kita semua bahwa rokok bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah sosial dan kesehatan publik. Namun, pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah: mengapa masih banyak orang yang berpikir bahwa asap rokok hanya mempengaruhi mereka yang merokok?
Merokok seringkali dibela dengan alasan kebebasan individu. Tapi, sejauh mana kebebasan itu bisa disebut sebagai urusan pribadi jika asapnya bisa masuk ke paru-paru orang lain? Jika merokok memang pilihan personal, mengapa konsekuensinya harus ditanggung oleh mereka yang tidak pernah memilih? Mengapa perempuan, anak-anak, dan ibu hamil harus terkena dampak dari keputusan yang bukan mereka ambil?
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan seringkali menjadi korban asap rokok. Banyak istri, ibu, dan anak perempuan yang tidak pernah merokok, tetapi harus menghirup asap rokok setiap hari. Ini ironis, bukan? Mereka yang tidak merokok harus menerima dampak dari kebiasaan yang bukan milik mereka. Lalu, di mana letak keadilan ketika risiko kesehatan dibagi kepada orang yang tidak pernah memberikan persetujuan?
Fenomena serupa juga terjadi di dalam organisasi. Berapa banyak rapat dan diskusi yang diadakan di tengah asap rokok? Mengapa anggota yang tidak merokok seringkali harus mengalah dan memilih diam demi menjaga suasana? Bukankah organisasi seharusnya menjadi tempat yang menjunjung kesetaraan, bukan tempat yang menormalisasi ketidaknyamanan sebagian anggotanya?
Kondisi ini menjadi semakin memprihatinkan ketika yang terdampak adalah ibu hamil dan anak-anak. Mereka adalah kelompok yang paling rentan, tetapi juga kelompok yang paling tidak memiliki kuasa untuk menolak. Seorang anak bisa menerima dampak asap rokok sebelum ia memahami apa itu rokok. Pertanyaannya, jika orang dewasa bebas memilih untuk merokok, mengapa anak-anak harus ikut menanggung akibatnya? Jika itu hak pribadi, mengapa penyakitnya justru bersifat kolektif?
Karena itu, Hari Anti Tembakau Sedunia tidak boleh hanya menjadi seremoni tahunan atau unggahan media sosial. Momentum ini harus menjadi refleksi bersama bahwa hak untuk merokok tidak pernah lebih besar daripada hak orang lain untuk hidup sehat. Jika merokok memang pilihan pribadi, mengapa asapnya harus dibagi-bagi? Mengapa risikonya harus diwariskan? Dan mengapa mereka yang tidak bersalah harus ikut membayar harga dari kebiasaan yang tidak pernah mereka pilih? Kesehatan bukan hanya soal kebebasan individu, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk memastikan bahwa pilihan kita tidak menjadi beban bagi orang lain.
Penulis: Sabrina