pcpmiimojokerto.com

Amarah ’98 yang Menjadi Komedi 2020-an

“Dulu kita mengira sedang meruntuhkan tembok tirani. Ternyata, kita hanya sedang merenovasinya agar memiliki jendela yang lebih bagus untuk tempat mereka melambaikan tangan.”

Mei 1998 adalah altar pengorbanan di mana darah, air mata, dan asap gas air mata menjadi saksi ketika sebuah generasi memutuskan bahwa “cukup adalah cukup”. Kita meruntuhkan oligarki terpusat dengan harapan bisa membagikan keadilan ke seluruh penjuru negeri, namun sejarah selalu punya selera humor yang gelap. Dua puluh delapan tahun kemudian, kita justru mendapati diri kita terjebak dalam sebuah labirin yang familier. Nepotisme tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang. Ia berjalan dengan penuh percaya diri di atas karpet merah, mengenakan setelan jas mahal, dan dilindungi oleh undang-undang yang diketuk tengah malam. Korupsi pun tidak lagi dianggap sebagai kejahatan luar biasa, melainkan sekadar “biaya administrasi” dalam sistem demokrasi kita yang berbiaya tinggi.

Lalu, di mana posisi kita para perempuan dalam lelucon sejarah ini? Mei ’98 bukan cuma tentang podium dan mikrofon penentu kebijakan, melainkan tentang tubuh-tubuh perempuan yang dijadikan medan pertempuran politik yang brutal, tentang jerit histeris yang dibungkam paksa, dan tentang rahim para ibu yang dikoyak duka karena anak-anak mereka tak pernah pulang ke rumah. Reformasi yang dulu diperjuangkan dengan nyawa dan air mata darah para perempuan kini telah dijinakkan. Ia telah diadopsi oleh anak-cucu dari sistem yang dulu kita lawan. Mereka yang dulu diadili kini menjadi penasihat, mereka yang dulu berteriak di jalanan kini sibuk membagi-bagi kursi komisaris, dan suara perempuan kembali hanya dijadikan pemanis dalam kosmetik pemilu.

Selamat memperingati Hari Reformasi, dan selamat merayakan keberhasilan kita mendesentralisasikan kekuasaan absolut menjadi kekuasaan kelompok kecil yang tersebar rata. Kepalkan tanganmu untuk para martir ’98, berdirilah dengan takzim untuk para perempuan yang merawat ingatan di seberang Istana, dan untuk kita yang dipaksa tunduk pada kemunduran hari ini, semoga mereka yang gugur tak menangis melihat bagaimana kita membiarkan para elite menginjak-injak warisan reformasi mereka.

Sebagai Perempuan KOPRI, kita menolak menjadi penonton dalam komedi politik ini. Jika reformasi telah mati di tangan para elite, maka dari rahim pergerakan perempuan, kita akan melahirkan kembali perlawanan yang lebih panjang dan berlipat ganda.

Mundur adalah pengkhianatan, diam adalah penindasan. Kita akan terus merawat ingatan, menolak lupa, dan melipatgandakan barisan demi keadilan yang hakiki.

 

Penulis: Lutviana

admin

Recent News