Dari Kaderisasi Menuju Aksi Ekologi, SKK VI KOPRI Mojokerto Angkat Ekofeminisme

PCPMII-Mojokerto, 30 Agustus 2026 — Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Cabang (PC) PMII Mojokerto menyelenggarakan Sekolah Kader KOPRI (SKK) VI pada 28–30 Agustus 2026 di PCNU Kabupaten Mojokerto. Kegiatan yang diikuti oleh 12 peserta tersebut mengangkat tema “Refleksi Gemah Ripah Loh Jinawi: Memperkuat Akar Ekofeminisme Kader KOPRI untuk Kedaulatan Ekologi.”

Tema tersebut menjadi pijakan utama dalam rangkaian kaderisasi yang diarahkan untuk membangun kesadaran kader KOPRI terhadap persoalan lingkungan sekaligus melihat keterkaitannya dengan isu perempuan, masyarakat, dan keadilan sosial.

Melalui SKK VI, peserta tidak hanya diajak memahami persoalan ekologi dari sisi lingkungan, tetapi juga merefleksikan bagaimana perempuan memiliki posisi dan peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan serta memperjuangkan kedaulatan ekologi.

Pemateri yang hadir di antaranya Salis Khoiriyah, seorang psikolog, dosen, sekaligus Koordinator PPKS Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto. Selanjutnya Isna Asaroh, aktivis sekaligus penulis, turut memberikan perspektif yang berkaitan dengan gerakan dan kepenulisan.

SKK VI juga menghadirkan Uswah Syauqi, pendiri Yayasan Quran Hilya Azzahra, Direktur Perempuan Membaca, sekaligus Founder FiqihPerempuan.id. Perspektif mengenai perempuan, keislaman, dan pemberdayaan menjadi bagian dari wawasan yang diberikan dalam forum.

Kemudian, Heru Nugroho Pamungkas, Fungsional Perencana Muda Bidang PPM Kabupaten Mojokerto, turut menjadi pemateri dengan perspektif perencanaan pembangunan dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.

Perspektif gender juga diperkuat melalui kehadiran Mualifah, seorang gender enthusiast, Direktur Eksekutif Civika.id, content creator, sekaligus penulis.

Dari unsur kaderisasi KOPRI, turut hadir Raden Siska, selaku Bidang Kaderisasi KOPRI PKC PMII Jawa Timur, dan Hoerunnisa, selaku Bidang Kaderisasi KOPRI PB PMII. Keduanya turut memberikan penguatan dalam proses kaderisasi peserta SKK VI.

Ike Soimah, Sekretaris Bidang Kaderisasi KOPRI PKC PMII Jawa Timur yang juga menjadi instruktur dalam SKK VI, menyampaikan kesannya terhadap proses forum. Ia menilai seluruh peserta aktif dalam mengikuti rangkaian kegiatan.

“Peserta di forum aktif semua. Semua peserta memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan pendapatnya, dan semuanya juga memanfaatkan ruang tersebut,” ujar Ike.

Menurut Ike, keberagaman pemateri yang dihadirkan juga menjadi salah satu kekuatan dalam proses pembelajaran. Setiap pemateri dinilai mampu menyampaikan materi sesuai dengan submateri yang telah ditentukan sehingga pembahasan tetap terarah.

“Pemateri yang dipilih juga semua sesuai dengan yang seharusnya karena semua pemateri menyampaikan materi sesuai sub dan tidak keluar dari pembahasan, sehingga diskusi dan materi yang disampaikan terstruktur,” lanjutnya.

Salah satu peserta, Zubaida, mengaku mendapatkan pengalaman berkesan selama mengikuti SKK VI. Menurutnya, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memahami sejarah dan perjuangan KOPRI, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai persoalan perempuan dan lingkungan.

“SKK bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang untuk membangun keberanian dan kesadaran sebagai kader perempuan. Harapannya, ilmu yang didapat bisa dilanjutkan dalam aksi nyata di masyarakat,” ungkap Zubaida.

Keaktifan peserta dalam berdiskusi menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi tersebut. Ruang diskusi yang terbuka memungkinkan peserta untuk menyampaikan gagasan, pandangan, maupun refleksi terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan perempuan dan lingkungan.

Melalui tema “Refleksi Gemah Ripah Loh Jinawi”, SKK VI KOPRI PC PMII Mojokerto berupaya menghidupkan kembali refleksi mengenai cita-cita kehidupan yang sejahtera dan harmonis dengan alam. Konsep tersebut kemudian dipertautkan dengan perspektif ekofeminisme sebagai upaya memperkuat kesadaran kader terhadap relasi antara perempuan, lingkungan, dan ketidakadilan ekologis.

Kader KOPRI diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi mampu menjadikan perspektif ekofeminisme sebagai bagian dari gerakan dan praktik kader di tengah masyarakat. Dengan demikian, kader perempuan PMII dapat mengambil peran dalam mendorong terwujudnya kedaulatan ekologi yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

 

Pewarta: Sabrina

Admin PC

Recent News