pcpmiimojokerto.com

Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Seribu Nyawa?

Nyawa Rakyat Bukan Angka Administratif, Lebih dari 1.000 nyawa telah direnggut oleh banjir dan longsor yang menerjang wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebuah tragedi kemanusiaan yang kini menjadi salah satu bencana paling mematikan di Sumatera dalam beberapa dekade terakhir. Korban meninggal akibat bencana ini telah mencapai kurang lebih sekitar 1.016 jiwa, berdasarkan data terbaru BNPB yang dirilis lewat laporan media masa baru-baru ini.

Ironisnya, di tengah gemuruh duka yang melanda keluarga korban, negara masih enggan mengakui tragedi ini sebagai Bencana Nasional sebuah keputusan administratif yang seharusnya menjadi pangkal mobilisasi tanggung jawab negara terhadap rakyatnya. Ketika kematian ribuan manusia menanti status, kita harus bertanya, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas seribu nyawa ini?

Penanganan bencana semestinya tidak boleh berhenti pada sekadar hitungan statistik. Ketika kebijakan dan prosedur berjalan lambat, nyawa terus terenggut seolah keselamatan rakyat hanya menjadi variabel yang bisa ditunda sesuai pertimbangan administratif. Padahal korban bukan angka statistik, mereka adalah manusia dengan keluarga, cita-cita, dan masa depan yang direnggut oleh bencana yang harusnya diantisipasi dengan serius.

Faktor struktural seperti kerusakan lingkungan, deforestasi, dan kurangnya mitigasi perlu dihadapi secara terbuka dan bertanggung jawab. Ketika negara membiarkan tragedi ini berjalan tanpa pengakuan yang layak, maka negara itu sendiri menjadi bagian dari persoalan bukan solusi.

Pernyataan Sikap Kader PMII
Kami, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Mojokerto dengan tegas menyatakan bahwa:

1. Tragedi banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar yang telah merenggut lebih dari 1.000 nyawa adalah cermin kegagalan penanganan bencana yang membutuhkan tanggung jawab penuh negara.
2.Kami mendesak pemerintah untuk segera menetapkan bencana ini sebagai bencana nasional, sehingga prioritas pelibatan sumber daya dan normalisasi penanganan dapat segera direalisasikan.
3.Negara tidak boleh menunda responsnya hanya karena alasan administratif, nyawa rakyat bukan angka administratif.

Kita tidak boleh membiarkan seribu nyawa hilang sia-sia. PMII Mojokerto berdiri bersama rakyat Sumatera!!

 

Pewarta: Sa’dan
Editor   : Maulana

admin

Recent News