PC/PMIIMOJOKERTO – Rentetan trauma menyelimuti Yayasan pondok pesantren Mahad Annur jurangrejo pasca-insiden keracunan massal yang dipicu oleh layanan gizi Yayasan Bina Bangsa Semarang 03. Guncangan mental yang dialami santri maupun pengelola begitu hebat, hingga memaksa gerbang pesantren tertutup rapat dan kegiatan belajar mengajar (KBM) dihentikan demi memulihkan batin para korban.
Ahmad Masduqi, Pimpinan Yayasan Mahad Annur, menyebut dampak keracunan ini bersifat fatal bagi kesehatan para santri. Dengan total 159 korban, perhatian kini tertuju pada satu santriwati yang tengah menjalani perawatan medis khusus akibat penurunan kondisi kesehatan yang drastis
“Ada santri kami bernama Dian Pitaloka yang sampai harus transfusi darah tiga kantong karena HB-nya turun drastis hingga angka 5. Kondisinya memang sedang kurang sehat, lalu ditambah mengonsumsi makanan dari program MBG tersebut, sehingga dampaknya semakin parah,” jelas Masduqi, Jumat (16/1/2026).
Kegiatan belajar di Mahad Annur kini vakum tanpa kepastian tanggal kembali. Ahmad Masduqi mengakui kebijakan meliburkan santri sengaja diambil agar proses penyembuhan total dapat dilakukan secara intensif di bawah tanggung jawab orang tua masing-masing.
“Kami meminta wali santri untuk merawat anak-anak sampai benar-benar sembuh total sebelum kembali ke pondok. Saat ini hanya beberapa santri yang sudah balik,” ungkapnya.
Trauma tersebut memaksa pimpinan Ma’had Annur mengambil sikap dengan menolak distribusi makanan jadi dari program MBG. Masduqi menegaskan bahwa kondisi mental warga pondok dan para wali santri sudah terlalu hancur untuk kembali menerima risiko serupa yang telah merenggut kesehatan 159 santrinya.
“Jujur, saya sebagai pimpinan trauma. Lihat wadah makanannya saja saya sudah takut. Kepercayaan masyarakat sudah menurun drastis. Bahkan santri yang di rumah sakit pun enggan makan hanya karena melihat wadah yang mirip dengan kemasan MBG itu,” tegas Masduqi.
Sebagai bentuk evaluasi pahit atas tragedi yang terjadi, pihak pondok menyuarakan otonomi pengelolaan anggaran gizi. Masduqi menyarankan agar dana program dialihkan langsung ke pihak sekolah atau wali murid; sebuah langkah preventif agar risiko keracunan tidak lagi melibatkan pihak ketiga yang justru memperkeruh keadaan saat terjadi insiden fatal.
“Kami tetap support program pemerintah, tapi untuk menerima makanan jadi lagi, saya sangat keberatan karena khawatir dengan keselamatan santri. Akan kami diskusikan lebih lanjut dengan Kyai. Namun sebagai evaluasi, akan lebih efektif jika diberikan dalam bentuk uang agar dikelola pondok atau orang tua, sehingga kualitasnya lebih terjamin,” jelasnya.
Pewarta : Bidang II PC PMII MOJOKERTO
Editor : Imam Faisal Mobarok
Publisher : Muhamad Sa’dan