Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang didirikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya, telah menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga keutuhan bangsa, memperkuat moderasi beragama, serta memberikan kontribusi signifikan tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia Islam secara global. Dengan basis anggota yang diperkirakan mencapai lebih dari 90 juta jiwa.
NU bukan sekadar organisasi sosial-keagamaan, melainkan aktor strategis dalam membangun peradaban yang berbasis pada nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah, toleransi, keadilan sosial, dan cinta tanah air. Dalam konteks keindonesiaan maupun global, NU hadir sebagai penjaga harmoni, pelopor perdamaian, dan penggerak transformasi sosial yang berkelanjutan.
Secara komprehensif kontribusi NU dalam dua dimensi utama: pertama, kontribusinya terhadap pembangunan, stabilitas, dan identitas nasional Indonesia; kedua, perannya dalam diplomasi keagamaan, perdamaian dunia, dan pengembangan wacana Islam moderat di tingkat internasional. Melalui pendekatan historis, sosiologis, dan normatif, artikel ini menunjukkan bahwa NU bukan hanya relevan di masa lalu, tetapi juga sangat penting di masa kini dan masa depan.
Kontribusi untuk Negeri: Menjaga Persatuan, Moderasi, dan Keadilan Sosial
Sejak kelahirannya, NU telah menunjukkan komitmen kuat terhadap keutuhan bangsa dan negara. Pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari, tidak hanya seorang ulama besar dalam bidang fikih dan tasawuf, tetapi juga seorang pemikir politik yang visioner.
Pada masa awal kemerdekaan, ketika ancaman kolonialisme Belanda dan imperialisme Jepang masih membayangi, Kiai Hasyim mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini menyatakan bahwa
tanah air dari penjajah adalah bagian dari jihad fi sabilillah sebuah bentuk ibadah tertinggi dalam Islam.
Resolusi tersebut menjadi dasar spiritual dan moral bagi rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Salah satu manifestasi nyata dari resolusi ini adalah Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Banyak santri dan kiai NU gugur dalam pertempuran tersebut, menunjukkan bahwa cinta tanah air adalah bagian tak terpisahkan dari iman mereka.
Di era Orde Baru, NU sempat mengalami tekanan politik karena sikap kritisnya terhadap rezim otoriter. Namun, NU tetap mempertahankan independensinya melalui jaringan pesantren dan lembaga sosial keagamaan. Setelah reformasi 1998, NU kembali menegaskan perannya sebagai penjaga moderasi beragama.
Di tengah maraknya gerakan radikal dan ekstremis yang mengklaim mewakili Islam, NU tampil sebagai suara mayoritas umat Islam yang damai, inklusif, dan berkeadaban.Melalui forum Bahtsul Masail mekanisme pengambilan keputusan hukum Islam yang demokratis dan partisipatif NU secara konsisten menegaskan bahwa Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI adalah final dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Fatwa-fatwa resmi PBNU, seperti fatwa tentang larangan khilafah, penolakan terhadap tindakan terorisme, dan dukungan terhadap hak-hak minoritas, menunjukkan komitmen NU terhadap prinsip-prinsip kewarganegaraan yang inklusif.
Selain itu, NU juga berkontribusi besar dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Ribuan pesantren di bawah naungan NU tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum, teknologi digital, kewirausahaan, dan literasi lingkungan. Pesantren-pesantren modern seperti Pondok Pesantren Tebuireng, Lirboyo, dan Al-Munawwaroh telah menjadi model pendidikan holistik yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dan intelektual. Di bidang sosial, NU memiliki jaringan luas melalui Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), Rumah Sakit NU, dan Badan Otonom (Banom) seperti Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor. LAZISNU, misalnya, tidak hanya mengelola zakat secara profesional, tetapi juga menyalurkannya untuk program-program pemberdayaan masyarakat, beasiswa santri, dan bantuan bencana. Rumah Sakit NU tersebar di berbagai daerah, termasuk di wilayah terpencil, dan memberikan layanan kesehatan berkualitas tanpa memandang latar belakang agama atau suku. GP Ansor, sebagai sayap kepemudaan NU, juga memainkan peran penting dalam menjaga keamanan sosial. Pasukan Banser (Barisan Ansor Serbaguna), dengan anggota mencapai jutaan orang, sering kali menjadi garda terdepan dalam mengamankan acara keagamaan, menjaga toleransi antarumat beragama, dan meredam potensi konflik sosial. Banser bahkan pernah mendapat penghargaan dari PBB atas kontribusinya dalam menjaga perdamaian lokal.
Kontribusi NU untuk Dunia: Diplomasi Islam Nusantara dan Perdamaian Global
Di tingkat global, NU memperkenalkan konsep Islam Nusantara sebagai model alternatif Islam yang moderat, toleran, dan berkeindonesiaan. Konsep ini pertama kali digagas secara resmi dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015. Islam Nusantara bukanlah upaya untuk “melokalisasi” Islam atau menciptakan aliran baru, melainkan menunjukkan bagaimana Islam dapat beradaptasi dengan budaya lokal tanpa mengorbankan prinsip-prinsip syariah. Inti dari Islam Nusantara adalah penekanan pada akhlak, kearifan lokal (urf), dan kemaslahatan umum (maslahah).
Dalam perspektif ini, Islam bukan hanya soal ritual dan hukum formal, tetapi juga soal bagaimana membangun hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai-nilai seperti tawasuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang bagi seluruh alam) menjadi fondasi utama Islam Nusantara.
Konsep ini sangat relevan dengan tantangan global saat ini, seperti konflik antaragama, dehumanisasi, ekstremisme, dan krisis iklim. NU melalui tokoh-tokohnya, seperti Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), telah aktif mempromosikan Islam Nusantara di forum-forum internasional. Gus Yahya, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NU sejak 2021, kerap menekankan bahwa Islam harus menjadi solusi, bukan sumber masalah.
Puncak diplomasi global NU terjadi pada tahun 2018, ketika Konferensi Internasional Ulama Perdamaian Dunia diselenggarakan di Jakarta atas inisiatif NU dan didukung oleh Pemerintah Indonesia. Acara tersebut dihadiri oleh ratusan ulama, cendekiawan, dan pemimpin agama dari lebih dari 30 negara, termasuk Mesir, Maroko, Turki, India, dan Amerika Serikat. Konferensi ini menghasilkan Deklarasi Jakarta, yang menyerukan penghentian kekerasan atas nama agama, penolakan terhadap ekstremisme, serta penegakan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Deklarasi Jakarta juga menegaskan pentingnya peran ulama dalam membangun perdamaian, bukan hanya sebagai penafsir teks suci, tetapi sebagai aktor moral yang mampu membimbing umat dalam menghadapi kompleksitas dunia modern. NU menyerukan agar otoritas keagamaan tidak digunakan untuk memecah belah, melainkan untuk menyatukan.
Selain itu, NU aktif dalam forum-forum internasional seperti Organisation of Islamic Cooperation (OIC), World Council of Churches, dan United Nations Alliance of Civilizations (UNAOC). Melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) organisasi yang menaungi ribuan pesantren NU juga membangun jaringan akademik lintas negara untuk mempromosikan studi Islam yang inklusif dan berbasis perdamaian.
Salah satu contoh konkret keterlibatan NU di tingkat global adalah partisipasinya dalam Forum Agama G20 (Religion 20/R20), yang pertama kali diselenggarakan di Bali pada 2022. Sebagai inisiator R20, NU berhasil menghadirkan suara moderat Islam ke dalam agenda global, menyejajarkan isu-isu keagamaan dengan isu-isu pembangunan berkelanjutan, keadilan sosial, dan perlindungan lingkungan. R20 kini menjadi platform permanen dalam rangkaian G20, menandai pengakuan dunia terhadap kepemimpinan moral NU.
Kontribusi Nahdlatul Ulama bagi negeri dan dunia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari perjuangan kemerdekaan hingga diplomasi perdamaian global, NU terus membuktikan bahwa Islam yang moderat, berakhlak, dan berpihak pada kemanusiaan bukan hanya mungkin, tetapi nyata. Di tengah arus globalisasi yang sering kali memicu polarisasi ideologis, NU hadir sebagai penyeimbang yang menawarkan jalan tengah berbasis pada nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin.
Sebagai organisasi keagamaan tertua dan terbesar di Indonesia, NU tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga pelopor perubahan yang berkelanjutan. Masa depan Indonesia dan dunia membutuhkan lebih banyak gerakan seperti NU gerakan yang memadukan iman, ilmu, dan cinta kemanusiaan. Dengan komitmen pada prinsip-prinsip keadilan, toleransi, dan kebijaksanaan, NU akan terus menjadi mercusuar perdamaian, baik di dalam negeri maupun di kancah global.
Penulis: Saiful Efendi (Tulisan ini menurut sudut pandangnya)