pcpmiimojokerto.com

AKTUALISASI NILAI ASWAJA AN-NAHDHIYYAH DALAM ORIENTASI GERAKAN

Oleh: Raushan Fikri Umar

Khaadim NU

 حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىمَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair] dia berkata: Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] yang berkata: bahwa Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa’id Al Anshari] berkata: telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ibrahim At Taimi], bahwa dia pernah mendengar [Alqamah bin Waqash Al Laitsi] berkata: saya pernah mendengar [Umar bin Al Khaththab] diatas mimbar berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan, Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.”

LATAR BELAKANG

Hasil Keputusan Komisi Muktamar ke 34 di Jombang menegaskan bahwa PMII harus kembali pada rel organisatoris Nahdhatul Ulama’, keputusan itu lahir sebagai pertimbangan zaman yang telah berubah. Kalau dahulu PMII berpisah dari komando NU agar menyelamatkan diri dari keganasan Orde Baru dan antisipasi agar tidak terjebak dalam politik praktis yang di lakukan oleh Ulama’, maka sekarang NU kembali meneguhkan khittahnya sebagai Organisasi yang bergerak dalam bidang keagamaan dan sosial. Dalam kajian historis PMII memasuki fase interdependensi yakni tidak tergabung dalam garis komando resmi NU melainkan terikat secara budaya, sejarah, dan arah gerak organisasi meskipun demikian, klaim muktamirin bahwa PMII harus dimasukkan dalam narasi konstitusial NU agar menjadikan jaminan PMII selalu di bawah underbouw NU selayaknya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

PEMBAHASAN:

Apa yang menyebabkan PMII berbeda dengan gerakan-gerakan Mahasiswa yang lain?, sebagian besar pasti menjawab nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdhiyyah yang membedakannya dengan Organisasi lainnya. Namun, sayangnya peredaan ini yang banyak tidak di pahami oleh para anggota & kader PMII. Mayoritas kader lebih tertarik membahas isu sosial & politik dengan memakai kacamata Materialistis daripada Ahlussunnah wal Jam’ah. Para kader lebih memahami pokok pikiran Marxisme dibanding pokok pikiran Gus Dur serta turunannya. Sehingga Output pertama dari tujuan PMII yakni Ketakwaan kering tak berarti.

Meski sebagian besar para aktivis PMII berlatar-belakang santri & pesantren, namun kesantrian tersebut masilah berupa bahan mentah yang belum diolah menjadi makanan lezat. Mengapa ini terjadi ?. Sistem Pendidikan pesantren yang memberatkan pada hafalan tanpa di sertai dengan pemahaman komprehensif membuat para santri itu menjadi kering ilmunya. Tak dapat mengembangkan sendiri pemahamannya. Logika yang didapatkan masih terfokus pada ”teks”, belum menjadi ”konteks”, apalagi ”kontekstual”.

Penulis pernah mewawancarai para ”Mawar Muda” yang notabene alumni pesantren. Dari yang Salaf, Tahfizh, hingga Modern. Ketika di tanya apa yang kamu dapatkan dari pesantren dijawab olehnya Tidak Ada, kosong, belum paham, dan naasnya ada yang menjawab membuang-buang waktu. Beberapa diantaranya beralasan akibat itu didapatkan olehnya sebagai buah kemalasan belajar dari pesantren. Namun, bagi penulis itu semua adalah Kambing Hitam yang di labeli oleh santri yang belum memahami apa isi dari materi-materi yang ia pelajari. Apakah memungkinkan orang-orang yang di gembleng selama 6 bahkan sampai 10 tahun dengan sistem yang ketat, selalu diawasi oleh otoritas keilmuan yang bukan kaleng-kaleng, serta memiliki pengalaman berjimbun di dunia pendidikan melahirkan output kosong ?. saya rasa mustahil sahabat/i.

Dari krisis tersebut, PMII sebagai Anak Kandung para kyai yang terhimpun dalam Nahdhatul Ulama’ hadir sebagai wadah penanaman logika Konteks dan Kontekstual. Seluruh materi yang diampuh dalam PMII serta sistem kaderisasi yang ideal tak mungkin lepas dari introduksi Konteks serta Kontekstual. Pada NDP semisal, nilai-nilai sublimasi yang diambil dari intisari Keislaman dan Keindonesiaan, pada Aswaja di tambahkan sejarah doktrin aswaja dari zaman azali hingga zaman Jokowi, dalam materi keindonesiaan, di jelaskan bagaimana sepak terjang Gerakan Islam mulai dari runtuhnya Turki Ottoman hingga tegaknya doktrin Aswaja An-Nahdhiyyah. Penambahan aspek historis di tiap materi wajib adalah implementasi dari logika konteks yang di tanamkan kepada para santri yang masih kebingungan dengan ilmu-ilmu di dapatkan dalam pesantren.

Idealnya, PMII lebih menonjolkan spirit keislaman di banding spirit materialisnya. Bagaimana dengan potret ssekarang ?. ketika membahas sebuah kebijakan, seringkali paham-paham islamisme di kooptasi dengan praduga-praduga materialis. Di tuduhnya bahwa paham Islamisme telah usang, dan tak terbantahkan. Buat apa berdebat jika dalil di bantah dalil ?, kita ingin islam yang sederhana, buat apa memilih perdebatan dalam agama jika Filsafat telah menjawab seluruh problem kita ?. Benar !!!. Namun, spiritualisme menjadikan manusia lebih berwarna. Soekarno dalam bukunya Sarinah menyatakan bahwa spiritualisme adalah warisan turun-temurun yang mustahil di basmi.

Konsep Spiritualisme selalu dianggap sebagai perbuatan Metafisik dan tak tesentuh oleh materi. Padahal Metafisik menjadi penyebab mengapa Fisik itu ada. Para kader selalu bahwa ummat lebih membutuhkan asupan-asupan politik dibanding asupan-asupan Akidah. Memang Politik itu penting namun, politik yang tidak di landaskan pada akidah akan menjadi lintah darat yang selalu memangsa rakyat kecil dan selalu mempertontonkan keserakahan di balik panggung demokratratis.

Tengoklah bagaimana KH. Wahid Hasyim yang sederhana itu ketika menjabat sebagai Wakil Rakyat, tengoklah KH. Ma’ruf Amin Ketika ia menjadi RI 02 selama 5 tahun kemaren, tengoklah KH. Abdurrahman Wahid tatkala ia duduk menjadi RI 01 selama 32 bulan. Orang-orang yang saya sebutkan sebelumnya wahai sahabat/i adalah orang-orang yang tak pernah rakus pada kekuasaan. Tak pernah mencoba melangkangi konstitusi, tak pernah sedikitpun upaya untuk meng-anjingkan aspirasi rakyat, orang-orang yang selalu ikhlas pada republik ini apapun kondisinya. Dari sini, kita tentunya paham bagaimana dimensi spiritual bekerja. Kerja-kerja spiritual kadang tidak sepenuhnya di pahami oleh akal sehat manusia. Contohnya Gus Dur yang ditanyai dalam satu stasiun televisi, ”mengapa anda menjadi presiden ?”, ”karena saya di perintah oleh sesepuh saya, leluhur saya yang bertemu dalam mimpi”. Orang Gila macam mana yang percaya dengan dawuh mimpi saat seluruh kerja-kerja kita di kelilingi oleh mesin?.

Dalam potret kehidupan sehari-hari, materialisme menyerang kader dalam pra-asumsi di tiap lingkar pengetahuan Pjs. Pertanyaan dan jawaban terhadap suatu isu selalu berangkat dari potret sinisme terhadap kebijakan. Orientasi tersebut merusak Aswaja sebagai Manhajul Harakah yang bertandaskan dalam Tawassuth. Belumlah mendengar dari kedua pihak sudah di hakimi olehnya. Tentu sebagai konsekuensi dari dilupakannya Tawassuth ialah ucapan-ucapan zhalim yang mengancurkan nilai I’itidal. Padahal sebagai manusia intelektual, kita di tuntut untuk berlaku adil sejak dalam pikiran.

Lantas, bagaimana dengan eksistensi NU yang harus di tampilkan secara formal oleh PMII, sahabat/i perlu tahu. Simbol-simbol tersebut berfungsi sebagai martir kesadaran selama perjuangan. Dalam arus pergerakan islam, doktrin Islam Ahlussunnah wal Jama’ah selalu di perebutkan oleh mayoritas gerakan. FPI, Hizbut Tahrir, IM, MMI, bahkan kelompok salafiyyah-wahabiyyah adalah bentuk gerakan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Bilamana PMII tidak menampilkan atribut-atribut ke-NU-an maka tentu buramlah posisi PMII terhadap permasalahan ummat. Pemakaian atribut ke-NU-an juga dapat memperkuat ikatan solidaritas dengan para Ulama’. Pemakaian simbol-simbol ini bukan berarti mematikan nalar kritis Mahasiswa terhadap kemafsadatan yang dilakukan oleh para ulama’ justru nalar kritis tersebut dapat terarah dengan persatuan bersama para ulama’. Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

Sahabat/i selalu mengkhawatirkan virus Feodalisme menjangkiti pikiran bilamana PMII manut kepada Kyai, sahabat/i perlu tahu bahwa konsep Kyai dan Pesantren sama sekali berbeda dengan Pendeta/Pastor dan Gereja. Sudah banyak para Indonesianis yang mengkaji Pesantren, Kyai, dan Santri yang berpangkal pada kesimpulan bahwa kyai bukanlah pelaku feodal dan santri bukanlah budak kyai. Sahabat/i dapat menengok pada karya-karya Martin van Bruenessans, ataupun Andres Hirata. Bahkan dikatakan para kyai adalah Culturaal Brooker yaitu pembaharu dari sebuah kebudayaan.

Asal-muasal di dirikannya Nahdhatul Ulama’ selain melestarikan Ahlussunnah wal Jama’ah tidak lain dan tidak bukan adalah memperbaharui pemahaman agama, dan kemudian juga ikut menanggung penderitaan ummat pada ekonomi dan sosial. Para Ulama’ selalu menggunakan ritme-ritme turost pada tiap keputusan. Barangkali sahabat/i dapat menyangkal bahwa turost itulah yang membawa kemunduran ummat. Padahal selama 1.200 Tahun peradaban kita berdiri diatas warisan yang tak ternilai itu.

KESIMPULAN:

Irama Gerakan PMII haruslah selaras dengan kepentingan Nahdhatul Ulama’ di era kosmopolitan ini. Nalar kader PMII condong mengikuti alur berfikir kaum materialistis sehingga spirit Islamisme pun di gadaikan demi kepentingan panggung kontestasi. Sejatinya PMII sebagai katalis terdepan NU lebih memperlihatkan aspirasi pembaharuan NU di abad kedua, mirisnya bukannya menyelaraskan gerakan. PMII justru keluar dari rel-rel NU.

Padahal sejatinya, krisis yang harus di jawab oleh PMII adalah penanaman logika konteks serta kontekstual para santri, para santri mulai dari keluarnya ia dari pesantren masih memahami agama sebatas teks. Disinilah peran PMII untuk mengeksplorasi spirit santri untuk menanamkan logika konteks serta kontekstual.

Akselerasi PMII-NU haruslah dilakukan secara formal, seperti menetapkan atibut-atribut NU pada tiap acara formal PMII. Simbol-simbol tersebut berfungsi sebagai pemantik gerakan dan penegasan identitas PMII sebagai Kaum Muda Nahdhatul Ulama.

 

 

 

 

 

 

 

admin

Recent News